KARYA ILMIAH PENELITIAN
Mentorship Sebagai Suatu Inovasi
Metode Bimbingan Klinik
Dalam Keperawatan
Abstrak
Penelitian oleh Malini dan
Huriani (2006) menunjukkan metode pengajaran klinik konvensional kurang dapat
meningkatkan kompetensi klinik para calon ners. Untuk itu diperlukan suatu
metode pembelajaran yang mampu memantau perkembangan pencapaian tujuan
pembelajaran yaitu mentorship. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah
penerapan mentorship mampu meningkatkan pencapaian kompetensi peserta didik,
meningkatkan kepercayaan diri, harga diri dan kesadaran diri peserta didik?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain semi ekperimental
dimana mahasiswa mengalami pembelajaran menggunakan metode pembelajaran klinik konvensional
dan dengan metode mentorship. Penelitian dilakukan selama 2 siklus (2 bulan)
praktek profesi Keperawatan Medikal Bedah dan dilakukan di IRNA B Bedah dan
IRNA C Penyakit Dalam RS Dr M Djamil Padang. Sampel penelitian adalah 24 orang mahasiswa peserta dan 4 orang pembimbing
klinik serta 4 orang mentor. Pengumpulan data dilakukan melalui Focus Group
Discussion (FGD). Penglahan data dilakukan mengikuti langkah-langkah
pengolahan data hasil FGD oleh Krueger & Casey (2000). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan metode mentorship mampu meningkatkan pencapaian
kompetensi klinik, kepercayaan diri, harga diri dan kesadaran diri peserta
didik. Peneliti merekomendasikan metode mentorship diaplikasikan sebagai metode
bimbingan klinik keperawatan yang telah dilakukan persiapan yang matang.
Pendahuluan
Titik berat pendidikan
keperawatan adalah proses mencerdaskan dan meningkatkan kemampuan individu
menjadi perawat yang mampu melaksanakan praktek keperawatan ilmiah. Outcome
dari pendidikan keperawatan adalah individu yang menunjukkan kemampuannya dalam
upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Nurachmach, 2007). Guna
pencapaian tujuan ini, Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas menjalankan program pendidikan profesi Ners.
Selama masa pendidikan profesi yang lamanya kurang lebih satu tahun, para calon
ners ini melewati pembelajaran klinik baik di lapangan maupun di rumah sakit.
Metode pengajaran yang dapat digunakan untuk masa pembelajaran ini adalah
konferensi, studi kasus dan bed-side teaching (Reilly & Oerman, 1985
dikutip dari Pusdiknakes, 2004).
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Malini dan Huriani (2006) didapatkan bahwa metode
pengajaran klinik yang selama ini dijalankan terutama untuk pengalaman di
klinik kurang dapat meningkatkan kompetensi klinik para calon ners. Kurang
dapat dicapainya kompetensi klinik ini akan menyebabkan tidak siap untuk
memasuki dunia kerja dan juga tidak dapat memenuhi tuntutan penyedia jasa
pelayanan kesehatan. Untuk itulah diperlukan suatu metode pembelajaran baru
yang mampu secara khusus dan seksama memantau perkembangan pencapaian tujuan
pembelajaran. Bentuk pengajaran klinik tersebut adalah mentorship.
Mentorship adalah suatu
hubungan antara 2 orang yang memberikan kesempatan untuk berdiskusi yang
menghasilkan refleksi, melakukan kegiatan/tugas dan pembelajaran untuk keduanya
yang didasarkan kepada dukungan, kritik membangun, keterbukaan, kepercayaan,
penghargaan dan keinginan untuk belajar dan berbagi (Rolfe-Flett, 2001;
Spencer, 1999 dikutip dalam Werdati, 2007).
Mentorship dapat juga diartikan sebagai proses pembelajaran dimana mentor mampu
membuat menti (peserta
mentorship) yang tadinya tergantung menjadi mandiri melalui kegiatan belajar.
Kegiatan belajar yang diharapkan terjadi yaitu mengalami sendiri dan menemukan
sendiri fenomena praktek keperawatan dimana hal ini diharapkan dapat membangun
kepercayaan diri, harga diri dan kesadaran diri yang merupakan fundamental
dalam penyelesaian masalah (Nurachmach, 2007).
Metode ini telah diaplikasikan
sejak lama dalam pendidikan keperawatan dan disiplin ilmu lainnya dalam
kesehatan, khususnya diluar negeri. Bahkan hasil review atas pelaksanaan
mentorship menyatakan bahwa mentorship dapat mengatasi kekurangan tenaga perawat,
meningkatkan kepuasan perawat serta memperbaiki kualitas pelayanan (Block &
Korow, 2005). Sejauh ini belum ada catatan pelaksanaan mentorship dalam sistem
pendidikan keperawatan maupun kesehatan di Indonesia.
Metode ini memberikan
kesempatan kepada para mentor untuk memantau secara mendetil perkembangan menti, dimana satu orang menti digandengkan dengan 1 orang
mentor, kemudian diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan dan
keterampilan yang didapatkan melalui interaksi dengan teman sejawat yang telah
memiliki pengalaman sehingga terbangun rasa percaya. Untuk dapat membuktikan
bahwa mentorship ini memang mampu untuk menjawab kekurangan yang ada dari
metode pengajaran klinik sebelumnya serta dapat diaplikasikan pada sistem
pelayanan keperawatan di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat umumnya, maka
perlu dilakukan sebuah penelitian yang menerapkan mentorship ini.
Literatur menunjukkan
penerapan mentorship dalam proses pembelajaran klinik keperawatan di luar
negeri mampu meningkatkan pencapaian kompetensi peserta didik. Selanjutnya,
mentorship juga diakui dapat meningkatkan rasa percaya diri, harga diri dan
kesadaran diri calon ners serta meningkatkan kesiapan perawat dalam menghadapi
dunia kerja. Dari sisi organisasional keperawatan, keberadaan para menti dapat membantu mengatasi
masalah kekurangan tenaga perawat. Namun demikian, pelayanan keperawatan di
Indonesia menganut sistem yang berbeda dengan pelayanan keperawatan di luar
negeri. Hal ini selalu diupayakan dalam rangka meningkatkan kepuasan pengguna
layanan keperawatan.
Masalah
penelitian ini adalah apakah penerapan mentorship dalam proses pembelajaran
klinik keperawatan mampu meningkatkan pencapaian kompetensi peserta didik,
meningkatkan kepercayaan diri, harga diri dan kesadaran diri peserta didik?
Masalah dijawab melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan desain semi
eksperimen, dimana dilakukan 2 perlakuan (metode lama dan mentorship) pada
mahasiswa calon ners yang sedang menjalani praktek Mata ajar Keperawatan
Medikal Bedah.
Tinjauan Pustaka
Bimbingan Klinik
Bimbingan
klinik adalah segala bentuk tindakan edukatif yang dilaksanakan oleh pembimbing
klinik untuk memberikan pengetahuan nyata secara optimal dan membantu peserta
didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Tujuan pelaksanaan bimbingan
klinik yaitu membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat
praktek, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dikelas secara terintegrasi ke
situasi nyata, dan mengembangkan potensi peserta didik dalam menampilkan
perilaku atau keterampilan yang bermutu ke situasi nyata dalam praktek. Selain
itu, bimbingan klinik juga bertujuan untuk memberi kesempatan kepada peserta
didik mencari pengalaman kerja secara tim dalam membantu proses kesembuhan
klien, memberi pengalaman awal dan memperkenalkan kepada peserta didik tentang
situasi kerja profesional keperawatan, dan membantu peserta didik mengatasi
masalah yang dihadapi di lahan praktek, serta membantu peserta didik dalam
mencapai tujuan praktek klinik.
Mentorship
Mentorship adalah suatu bentuk
sosialisasi untuk peran profesional yang merangsang pencapaian kompetensi sains
natural (Lowenstein & Bradshaw, 2001). Mentorship merupakan suatu hubungan
antara 2 orang yang memberikan kesempatan untuk berdiskusi yang menghasilkan
refleksi, melakukan kegiatan/tugas dan pembelajaran untuk keduanya yang
didasarkan kepada dukungan, kritik membangun, keterbukaan, kepercayaan,
penghargaan dan keinginan untuk belajar dan berbagi (Rolfe-Flett, 2001;
Spencer, 1999 dikutip dalam Werdati, 2007).
Kegiatan belajar yang diharapkan terjadi yaitu mengalami sendiri dan menemukan
sendiri fenomena praktek keperawatan dimana hal ini diharapkan dapat membangun
kepercayaan diri, harga diri dan kesadaran diri yang merupakan fundamental
dalam penyelesaian masalah (Nurachmach, 2007).
Dengan perubahan paradigma dalam
pendidikan dan perubahan kondisi kehidupan, konsep pembelajaran pada pendidikan
profesi keperawatan mengintegrasikan segala sumber yang ada kedalam suatu
bentuk sistem pembelajaran yang diharapkan lebih efektif dalam pencapaian
kompetensi, yaitu yang memiliki prinsip dasar belajar aktif dan mandiri. Salah
satu metode pembelajaran yang memenuhi kriteria tersebut adalah mentorship (Nurachmach,
2007).
Adapun 5 karakteristik mentorship yaitu sifat
hubungan yang menguatkan dan memberdayakan, menawarkan serangkaian fungsi
menolong/membantu untuk memfasilitasi pembinaan dan memberikan dukungan, perannya
meliputi keterkaitan antara aspek personal, fungsional dan hubungan, dan tujuan
individu (menti) dan fungsi
penolong ditetapkan oleh individu yang terlibat, serta bisa saling memilih
(siapa mentor dan menti) dan
diidentifikasi fase hubungannya. Hal ini akan memberikan kenyamanan bagi mentor
maupun menti dalam membangun
hubungan dan bagi pengembangan diri.
Fase hubungan dalam mentoring
terdiri dari 4 fase yaitu fase inisiasi, fase perencanaan, fase pelaksanaan dan
fase terminasi. Fase inisiasi berfokus pada
mengidentifikasi kesamaan karakteristik antara individu mentor dan menti, kemampuan atau pengakuan
nilai-nilai yang dianut. Hal yang penting disadari pada fase perencanaan adalah
bahwa terhadap keterbatasan-keterbatasan dari peran mentor dan kemampuan menti. Negosiasi atas pengharapan dilakukan
dan klarifikasi dikemukakan untuk meningkatkan kepuasan pada akhir hubungan
mentorship. Pada fase kerja, fokus utamanya adalah pertumbuhan dan perkembangan
dari hubungan dan pencapaian tujuan dalam mentoring. Kesinambungan hubungan
mentoring dipertahankan melalui interaksi mentor dan menti dan meningkatnya
rasa percaya dan kedekatan yang dibangun.
Sejalan
dengan perkembangan fase ini, rasa percaya dan berbagi menjadi terbentuk dan
menti menjadi lebih siap untuk memilah bentuk bantuan yang sesuai dengan
kebutuhannya. Menti secara bertahap menjadi lebih mandiri dan hanya
kadang-kadang mengharapkan bantuan. Pada perjalanan selanjutnya, menti dengan
segala pemahaman barunya menjadi seorang yang ingin mencoba dan mengambil
resiko yang terus dipantau serta didukung. Pada akhir fase ini, kepercayaan
diri menti terus meningkat.
Pada fase
terminasi, menti bekerja dan bertindak atas inisiatif sendiri dan pada posisi
ini menti telah bekerja secara mandiri. Jika proses dirasakan bermanfaat oleh
kedua pihak, maka keduanya dapat mempertahankan hubungan pertemanan. Masalah potensial dalam hubungan
mentorship dapat berupa mentor yang over protektif atau terlalu mengontrol
sehingga membekukan kreatifitas dan inovasi menti. Eksploitasi dapat terjadi jika mentor memiliki
tujuan untuk pelayanan pribadi mentor.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif yang menggunakan desain semi ekperimental dimana
mahasiswa mengalami pembelajaran menggunakan metode pembelajaran klinik lama
dan menggunakan metode mentorship. Pembimbing klinik yang sebagian menjalankan perannya yang lama dan sebagian
lainnya berperan sebagai mentor. Sebelum pelaksanaan mentorship, mentor dan
manajer ruangan perawatan diberikan pelatihan singkat tentang mentorship untuk
mempersiapkan menjadi mentor yang baik dan menyatukan persepsi mengenai program
ini. Sebagai panduan bagi mentor dan menti diberikan buku pedoman pelaksanaan
Mentorship Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah. Penelitian dilakukan
selama 2 siklus praktek profesi Keperawatan Medikal Bedah. Penelitian dilakukan
di IRNA B Bedah dan IRNA C Penyakit Dalam RS Dr M Djamil Padang.
Pelaksanaan mentorship dapat
digambarkan dimana satu orang mentor digandengkan dengan 3 orang menti. Menti menyusun kontrak belajar yang berisikan tujuan belajar
individual yang diketahui dan disetujui oleh mentor. Pertemuan regular mentor
dan menti diatur untuk
mendiskusikan perkembangan pencapaian tujuan belajar menti. Bentuk bimbingan yang dilakukan sesuai dengan kesepakatan
mentor dan menti. Hubungan mentor dan menti berlangsung selama 4 minggu. Evaluasi
proses dilakukan melalui observasi dan penilaian saat diskusi dari mentor
sedangkan evaluasi hasil melalui ujian praktek yang dilakukan pada akhir masa
praktek.
Sampel penelitian adalah 24 orang
mahasiswa peserta Pendidikan Profesi Keperawatan Medikal Bedah dan 4 orang
pembimbing klinik serta 4 orang mentor. Penempatan mahasiswa kelompok kontrol
dan kelompok perlakuan mengikuti ketetapan bagian profesi PSIK FK Unand.
Penggandengan mentor dan menti dilakukan oleh peneliti dengan pertimbangan
pemerataan jumlah mahasiswa Program A (input tamatan SMA) dan Program B (input
tamatan DIII Keperawatan).
Pengumpulan data dilakukan
langsung oleh peneliti melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk mengumpulkan
data persepsi mentor dan menti mengenai kedua bentuk bimbingan diman FGD
dilakukan secara terpisah untuk mentor dan menti. Data rekaman FGD diolah
sesuai dengan langkah-langkah pengolahan data hasil FGD oleh Krueger &
Casey (2000).
Hasil Dan Pembahasan
Pencapaian Kompetensi Klinik
Salah seorang menti melaporkan
adanya perubahan yang dirasakannya dalam melakukan pengkajian dan tindakan
keperawatan ketika mentor mendampingi dan membimbingnya dalam melakukan hal
tersebut. Dengan membandingkan pengalaman mahasiswa selama mengikuti program
mentorship dengan pengalaman mengikuti metode bimbingan lama, mahasiswa dalam
FGD menyampaikan adanya pencapaian kompetensi klinik yang lebih cepat, tepat
dan memuaskan dengan metode mentorship. Dalam melakukan pengkajian, mahasiswa
dapat melakukannya dengan fokus dan tindakan keperawatan yang dilakukan menjadi
lebih terarah dan sesuai dengan teori. Hal ini membuktikan pendapat Stewart dan
Krueger (1996) yang menyatakan salah satu atribut dari konsep mentoring adalah perbedaan
pengetahuan dan kompetensi antara pemula dan ahli. Melalui hubungan mentoring,
akan terjadi saling mengisi antara keduanya.
Menti lainnya melaporkan
perbedaan yang dirasakannya dengan membandingkan metode bimbingan klinik lama
dengan metode mentorship. Kontrak yang telah dibuat antara mentor dan menti
hampir seluruhnya dilaksanakan.Berbeda dengan metode bimbingan klinik lama
dimana beberapa pembimbing bertanggung jawab terhadap kemajuan 1 kelompok
mahasiswa praktek, menggunakan metode mentorship masing-masing mentor
bertanggung jawab terhadap mentinya. Dengan metode lama, memungkinkan adanya
pengharapan bahwa pembimbing lain akan melakukannya sehingga pada kenyataannya
tidak satu orangpun akhirnya melakukan bimbingan sesuai yang diharapkan oleh mahasiswa.
Selain atribut penting tadi, sinergi positif atau ‘chemistry’
hadir dalam hubungan mentorship. Karena ‘chemistry’ ini menyebabkan
seorang yang berpengalaman menjadi bertanggung jawab secara personal, intensif
dan emosional (Stewart & Krueger, 1996)
Dalam hal kompetensi melakukan
komunikasi terapeutik, sebagian besar menti melaporkan mendapatkan model peran
yang baik dari mentornya. Komunikasi terapeutik dipraktekkan oleh mentor dalam
berbagai kesempata seperti pada saat melakukan overan dinas, menerima
danmengorientasikan pasien baru, melaksanakan asuhan keperawatan, melakukan
tindakan keperawatan, dn lain-lain. Hal ini membuktikan bahwa program
mentorship juga dilaporkan efektif dalam mempraktekkan komunikasi terapeutik
dalam hubungan antara perawat dan pasien dan perawat dengan perawat. Saat
mentor melakukan kominukasi, menti mengamati teknik yang digunakan oleh mentor
untuk mendapatkan perhatian dari pasien dan memilih kata-kata yang dapat
dipahami oleh pasien. Demikian juga dengan komunikasi dengan kolega. Registered Nurses Association of
Ontario (RNAO, 2008)
mengatakan bahwa mentorship memberikan berbagai keuntungan seperti menjembatani
jurang antara teori dan praktek, meningkatkan pemikiran kritis dan pengembangan
karir, dan mengingkatkan profesionalisme perawat baru.
Namun demikian, sebagaimana
diungkapkan oleh beberapa mentee dalam FGD, mentee mengeluhkan kurangnya arahan
dari mentor ketika mentee tidak lagi dinas pada ruangan yang sama dengan
mentornya. Tanggung jawab yang ditunjukkan oleh mentor ada yang disalah artikan
oleh menti menjadi pendampingan yang terus menerus. Dijelaskan dalam fase
hubungan dalam mentorship, proses mentorship yang berhasil ditandai dengan
kesiapan menti untuk mampu bertindak secara mandiri. Lain halnya dengan menti
dalam program ini, pada waktu yang telah disepakati sebelumnya pada saat
penyusunan kontrak belajar, menti tidak siap untuk dilepas secara bertahap.
Dalam kontrak mentor dan menti disetujui bahwa setelah 2 minggu, ketergantungan
menti terhadap mentor harus berkurang. Kunci keberhasilan mentorship termasuk
mencegah terjadinya ketergantungan yang berlebihan dan menyadari kapan akan
mengakhiri mentorship (Greene & Puetzer, 2002).
Seorang mentor dituntut untuk
memiliki kompetensi dalam membangun jaringan kerja dengan kolega untuk berbagi
praktek terbaik. Dalam prakteknya, upaya ini dinilai sebagai pemicu kekecewaan
menti karena bukan mentor yang mendampinginya dalam pencapaian kompetensi. Hal
ini terungkap melalui pernyataan salah seorang menti berikut ini:
Mentor tidah hadir karena sakit, sibuk dan juga
banyak konseling, jadi kalau untuk tindakan kami lebih banyak didampingi oleh
perawat ruangan. … Saya pribadi merasa kurang puas, cuma waktu kami mau
sampaikan ke mentor, kayaknya mentor juga ga punya waktu untuk itu.
Kesalahpahaman
tentang proses dalam mentorship menimbulkan pikiran-pikiran negatif dan
selanjutnya mengurangi semangat menti dalam mencapai tujuan belajarnya. Pada
akhirnya, menimbulkan penilaian yang keliru tentang mentorship.
Seorang menti menilai mentorship hanya berfokus pada pencapaian
kompetensi tentang tindakan keperawatan, sedangkan kompetensi menyeluruh dalam memberikan
asuhan keperawatan secara komprehensif sering terabaikan. Dengan demikian
mentorship dirasakan tidak memfasilitasi pencapaian standar akademik. Hasil
diskusi dengan mentor menyatakan bahwa mentor telah berupaya memfasilitasi
menti sesuai kebutuhan yang diutarakannya. Dalam mentorship, tujuan
pembelajaran disusun oleh menti dan selanjutnya disepakati dengan mentor
mengenai pencapaiannya. Hal ini
bertolak belakang dengan metode bimbingan lama dimana tujuan pendidikan
ditentukan oleh pihak akademik. Perbedaan konsep ini telah dijelaskan pada
tahap persiapan dan dicantumkan dalam buku panduan.
Kepercayaan diri dan harga diri
Menti menyampaikan bimbingan
tidak hanya didapatkan dalam melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga dalam
hal membangun hubungan dengan pasien dan keluarga. Menti melaporkan melalui
mentorship terbangun rasa kekeluargaan dengan pasien dalam konteks hubungan
terapeutik. Kepercayaan diri yang dilihat dalam penelitian ini adalah kemampuan
menti dalam menempatkan diri pada saat membangun hubungan terapeutik,
berkolaborasi dengan anggota tim pelayanan kesehatan dan berkomunikasi secara
efektif. Metode bimbingan klinik mentorship dilaporkan menti mampu memenuhi
harapannya dalam hal-hal diatas.
Harga diri yang dimaksud
adalah ungkapan ataupun perasaan kepuasan atas otoritas yang dimiliki dalam
memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien. Ungkapan ini dapat muncul baik
dari penghargaan pasien terhadap perawat maupun penghargaan dari mentor
terhadap penampilan menti. Umumnya menti melaporkan adanya hubungan yang saling
menhargai antara mentor dan menti, seperti menghargai keberhasilan menti,
menghargai pendapat menti, menghargai upaya yang dilakukan menti serta
menghargai keterbatasan menti. Penghargaan, kepercayaan dan komunikasi terbuka
merupakan hal penting dalam membangun hubungan mentor dan menti yang sukses.
Tingkat kepercayaan harus diatur dimana mentor dan menti dapat berbagi
kepentingan profesional dan personal sebagaimana juga keberhasilannya (Busen
& Engebretson, 1999).
Dilain pihak, keunikan
individu terbukti mempengaruhi penilaian menti. Dengan program mentorship yang
memungkin kesempatan yang lebih besar bagi mentor dan menti untuk berinteraksi,
dirasakan sebagai suatu yang berlebihan dibandingkan apa yang diharapakan oleh
menti. Seperti yang diungkapkan berikut ini:
Sistem mentorship ini, ada kalanya menimbulkan
percaya diri. Masing-masing individu kan berbeda, …, karena perkembangan saya
yang terlambat dalam mencapai kompetensi, jadi saya didorong terus oleh mentor.
Ini jadi semacam beban bagi saya.
Sebuah ungkapan yang menunjukkan perasaan tidak
dihargai disampaikan oleh salah seorang menti. Ungkapan ID 20 menggambarkan
sikap mentor yang langsung mengambil alih melakukan tindakan pada saat terjadi
masalah tanpa meminta penjelasan sebelumnya dari menti. Pengalaman ini
dirasakan mengecewakan bagi menti. Penghargaan dari kedua pihak meningkatkan
percaya diri.
Kesadaran diri
Dalam uji coba program
mentorship ini menti tidak diberikan kesempatan untuk memilih mentor. Tidak
banyak ungkapan menti yang mencerminkan adanya perasaan telah menyadari peran
yang nanti akan dijalaninya saat menjadi seorang perawat. Mereka menyatakan
bahwa semua mentor telah menunjukkan bagaimana menjadi seorang perawat
profesional dan menjadi role model yang baik. Sebaliknya, masih banyak menti
yang mengatakan belum mampu untuk mempraktekkannya dalam keseharian yaitu
selama 1 bulan pelaksanaan mentorship. Kesadaran diri seorang perawat bahwa
posisinya yang sebenarnya adalah berada disamping pasien semakin lama semakin
berkurang karena kurangnya kepuasan kerja. Aplikasi program mentorship di tempat
lain telah terbukti mampu mengatasi masalah kekurangan pelaksana perawatan
serta memberikan makna tersendiri bagi pesertanya (Block & Korow, 2005).
Walaupun demikian, beberapa
ungkapan kekecewaan dari menti ditampilkan berikut ini:
Saya kan belum pernah sebelumnya, trus, karena
perkembangan saya yang terlambat dalam mencapai kompetensi, jadi saya didorong
terus oleh mentor. Ini jadi semacam beban bagi saya (ID 6).
beliau tidak terlalu mengontrol, sehingga kurang
memotivasi. Sangsi pun ga ada. … Pada awal-awal, karena kesadaran masih
tinggi, masih ga apa-apa. Tapi pada akhir, udah perlu ditekan, sudah tidak
termotivasi (ID 23).
Kesadaran diri
berawal dari individu itu sendiri yang kemudian didukung oleh lingkungan.
Pembinaan yang terus menerus akan meningkatkan kesadaran diri.
Dalam hal kesadaran diri untuk memperbaiki kekurangan ataupun kesalahan
dalam melakukan proses keperawatan, tidak banyak yang melaporkan kejadian
bermakna. Hal ini sebenarnya adalah awal dari siklus refleksi dimana praktek yang reflektif menuntut praktisi untuk
menggunakan pengetahuan teoritis dan cara yang kreatif untuk menjelaskan dan
meyelesaikan masalah dalam praktek profesional sehari-hari, menghasilkan
praktek dari teori dan menghasilkan teori dari praktek. Mentorship dalam
hal ini belum memperlihatkan manfaatnya dalam membangun kesadaran diri.
Kesimpulan dan Saran
Penerapan metode
mentorship dalam pelaksanaan Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah mampu
meningkatkan pencapaian kompetensi klinik, kepercayaan diri, harga diri dan
kesadaran diri peserta didik. Peneliti merekomendasikan metode mentorship
diaplikasikan sebagai metode bimbingan klinik dalam keperawatan khususnya dalam
mata kuliah keperawatan Medikal Bedah. Untuk mendapatkan pengalaman yang
berkualitas disertai dengan hasil maksimal baik bagi mentor maupun menti,
diperlukan persiapan yang lebih baik mengingat perubahan yang akan dilakukan
bersifat fundamental. Ditambah lagi dengan adanya buku pedoman yang sudah
direvisi, manfaat program mentorship akan lebih dirasakan oleh semua pihak.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti mengucapkan terima kasih
kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
yang telah membiayai penelitian ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan
rencana. Penghargaan yang sebesar-besarnya juga peneliti sampaikan kepada semua
pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.
Daftar Pustaka
Block, L. M. & Korow, M. K. (2005). The value of mentorship within
nursing organizations. Nursing Forum, 40 (4), 134-140.
Greene, M. T. & Puetzer, M. (2002). The value of mentoring: A
strategic approach to retention and recruitment. Journal of Nursing Care
Quality, 17 (1), 63-70.
Lowenstein, A. J. & Bradshaw, M. J. (2001). Fuszard’s
innovative teaching strategies in nursing (3rd ed). Maryland: Aspen
Publishers Inc.
Malini, H & Huriani, E. (2006). Kajian metoe pengajaran klinik
dalam meningkatkan pencapaian kompetensi mehasiswa Program Studi Ilmu
Keperawatan dalam praktek profesi Keperawatan Medikal Bedah. Tidak
dipublikasikan.
Nancy H Busen, Joan Engebretson:
Mentoring in Advanced Practice Nursing: The Use of Metaphor in Concept
Exploration. The Internet Journal of Advanced Nursing Practice. 1999.
Volume 2 Number 2.
Nurachmach, E. (2007). Paradigma pencapaian kompetensi pada pendidikan
ners dengan model preceptorship dan mentorship. Disampaikan pada Pelatihan Nasional Preceptorship dan Mentorship untuk
Pendidikan Ners. Yogyakarta, 12 – 14 Februari
2007.
Pusdiknakes
(2004). Panduan pembelajatan klinik. Jakarta: Badan Pengambangan dan Pemberdayaan
Sumber daya Kesehatan
Rahayu, G. R. (2007). Menyusun Tools untuk program preseptorship
dan mentorship. Disampaikan pada Pelatihan
Nasional Preceptorship dan Mentorship untuk Pendidikan Ners. Yogyakarta,
12 – 14 Februari 2007.
Registered Nurses Association of
Ontario (RNAO). (2008). Preceptorship and mentorship. Cited:
http://www.rnaoknowledgedepot.ca/strengthening_nursing/hwe_preceptorship_and_mentorship.asp
http://www.rnaoknowledgedepot.ca/strengthening_nursing/hwe_preceptorship_and_mentorship.asp
Stewart B, Krueger L. An evolutionary concept analysis of mentoring in
nursing. J Prof Nurs1996;12:311-321
Werdati (2007). Implementasi program mentorship pada pendidikan
keperawatan. Disampaikan pada Pelatihan
Nasional Preceptorship dan Mentorship untuk Pendidikan Ners. Yogyakarta,
12 – 14 Februari 2007.