LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA
1A
SEDIAAN LARUTAN
I.
Data
Preformulasi Zat Aktif
A. Sediaan Larutan
Dekstrometorphan
a.
Warna :
Hampir putih sampai agak kuning
b.
Rasa :
Pahit
c.
Bau : Tidak berbau
d.
Pemerian :
Serbuk hablur
e.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air
(larut dalam 60 bagian air) dan dalam 10 bagian etanol 95% ; mudah
larut dalam kloroform disertai pemisahan air ; praktis tidak
larut eter.
f.
Titik lebur / titik didih : 109,50 dan 112,50C
g.
pH larutan :
5,2 – 6,5
h. Stabilitas : - Pada suhu > 400C akan lebih
mudah terdegradasi
- Lebih
mudah terurai dengan adanya udara dari luar
i.
Inkompabilitas : - Obat-obat inhibitor
MAO
i. Obat-obat
selektif re-uptake serotonin
ii. Obat-obat
depresan SSP, psikotropika
iii. Alkohol
(Farmakope Indonesia IV, hal.298)
B.
Eliksir
Parasetamol
1.
Warna : Putih
2.
Rasa : Pahit
3.
Bau :
Tidak berbau
4.
Pemerian : serbuk hablur
5.
Kelarutan :
Larut dalam 70 bagian air, larut dalam 7 bagian etanol (95%)P, larut
dalam 13 bagian aseton, larut dalam 40 bagian gliserol, larut dalam sebagian
propilen glikol, larut dalam alkali hidroksida.
6.
Titik
lebur : 111o C
7.
Masa
molekular : 272,4 g/mol
8.
PH
larutan : 5-7oC
9.
Stabilitas : Pada suhu > 40oC
akan lebih mudah
-
terdegradasi,
lebih mudah terurai dengan adanya udara dari
-
luar dan
adanya cahaya, pH jauh dari rentang pH optimum
-
akan
menyebabkan zat terdegradasi karena terjadi hidrolisis.
II.
Data
Preformulasi Bahan Tambahan
A. Sediaan Larutan
Sirupus simpleks
a.
Warna :
Tidak berwarna
b.
Rasa :
Manis
c.
Bau :
Tidak berbau
d. Pemerian : Cairan jernih, hablur, massa
hablur berbentuk kubus
e.
Kelarutan : Larut dalam air, mudah
larut dalam air mendidih ; sukar larut dalam etanol ; tidak larut dalam
kloroform dan eter.
f.
Titik Didih / Lebur : 1860C
g.
Bobot Jenis : 1, 587 g/ mol
h.
Stabilitas : lebih mudah terurai
dengan adanya udara dari luar
Sukrosa
a.
Warna : Putih,
tidak berwarna
b.
Rasa :
Manis
c.
Bau :
Tidak berwarna
d.
Pemerian : Hablur,
masa hablur, bentuk kubus
e.
Kelarutan : Sangat
mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam
etanol, tidak larut dalam klroform dan eter.
f.
Titik didih :
186oC
g.
Bobot jenis :
1,587 g/ mol
h.
Stabilitas : Lebih
mudah terurai dengan adanya udara dari luar.
Metil paraben
a.
Warna :
Putih
b.
Rasa :
Tidak mempunyai rasa
c.
Bau :
Hampir tidak berbau
d.
Pemerian : Serbuk hablur halus
e.
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian
air mendidih, dalam 25 bagian etanol
(95 %) P, dan dalam 3 bagian aseton P ; mudah larut dalam eter P,
dan dalam alkali hidroksida.
f.
Titik Lebur : 1250C sampai 1280C
g.
Pka/pkb : 8,4
h.
Bobot Jenis : 1,352 gr/cm3 atau 1,352 gr/ml
i.
pH larutan : 3-6
j.
Stabilitas : Lebih mudah terurai dengan adanya
udara dari luar
Propil paraben
a.
Warna : Putih
b.
Rasa :
Tidak berasa
c.
Bau : Tidak berbau
d.
Pemerian : Serbuk
hablur putih
e.
Kelarutan : Sangat
sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol (95%)P, dalam 3 bagian
aseton P, dalam 140 bagian gliserol P, dan dalam 40 bagian minyak lemak, muda
larut dalam larutan alkali.
f.
Titik didih : 95oC
– 98oC
g.
Bobot jenis :
180,21 g/mol
h.
Stabilitas : Lebih
mudah terurai dengan adanya udara dari luar.
Sorbitol
a.
Warna :
putih
b.
Rasa :
rasa manis
c.
Bau :
tidak berbau
d.
Pemerian :
serbuk, butiran dan kepingan.
e.
Kelarutan :
sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) P, dalam metanol
P, dan dalam asetatP.
f.
Titik didih :
suhu lebur hablur antara 174oC – 179oC
g.
Stabilitas :
terhadap udara higroskopis.
Aquadest
a.
Warna : Jernih tidak berwarna
b.
Rasa :
Tidak mempunyai rasa
c.
Bau : Tidak berbau
d.
Pemerian : Cairan
e.
Titik didih : 1800C
f.
Pka/pkb : 8,4
g.
Bobot Jenis : 1 gr/cm3 atau 1 gr/ml
h.
pH larutan : 7
i.
Stabilitas : Stabil diudara
B.
Eliksir
Etanol
1.
Warna :
tidak berwarna
2.
Rasa :
rasa pahit
3.
Bau :
khas
4.
Pemerian : cairan
jernih, mudah menguap, bergerak, dan mudah terbakar.
5.
Kelarutan : sangat
mudah larut dalam air, dan dalam kloroform dan eter.
6.
Bobot jenis: 0,8119 – 0,8139 g/mol
7.
Stabilitas :
mudah menguap, lebih mudah rusak dengan adanya cahaya, dan muda terbakar.
III.
Alat dan
Bahan
ALAT
|
BAHAN
|
Timbangan
Mortir
Batang
pengaduk
Botol
coklat
Spatel
Kertas
perkamen
Gelas
ukur
Erlenmeyer
Pipet
tetes
Beaker
glass
Viskometer
Hoeppler
Piknometer
|
Dekstrometorphan
Metil
paraben
Propil
paraben
Sirupus
simplex
Sorbitol
Aquadest
Parasetamol
Etanol
|
IV.
Perhitungan
dan Penimbangan
Perhitungan
A. Sediaan Larutan
1.
Dekstrometorphan :
10 mg/ 5 mL → 100 mL

2.
Sirupus Simpleks
65
% sukrosa → 65 g sukrosa dalam 100 mL campuran (65 g dalam 100 g sirup)
3.
Sukrosa yang dibutuhkan = 

4. Sirupus
simpleks yang dibutuhkan untuk 5 botol sediaan = 175 mL = 200 mL
·
Sir. Simpleks botol I = 

·
Sir. Simpleks botol II = 

·
Sir. Simpleks botol III = 

·
Sir. Simpleks botol IV = 

·
Sir. Simpleks botol V = 

5.
- Metil paraben botol III = 0,18 % (b/v) = 0,18 g dalam 100 mL sediaan
- Metil paraben botol IV = 0,2 % (b/v) = 0,2 g dalam 100 mL sediaan
6.
Propil Paraben botol III = 0,02 % (b/v) = 0,02 g dalam 100 mL sediaan
7.
Sorbitol botol V = 15 % (b/v) = 15 g dalam 100 mL sediaan
B.
Eliksir
1. Parasetamol : kelarutan → 1 : 70 bagian air
1
: 7 bagian etanol 95 %
2. Untuk titrasi : parasetamol (120
mg/5 mL) yang dibutuhkan
Dalam 10 mL etanol : 10 mL/5 mL x 120 mg = 240 mg parasetamol
3. Untuk pembuatan sediaan (100 mL)
:
120 mg/5 mL → 100 mL
100 mL/5 mL x 120 mg =
2400 mg = 2,4 g
Penimbangan
A. Sediaan Larutan
No
|
Bahan
|
Berat
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
|
Dextrometorphan untuk setiap 100 mL
Sukrosa (untuk 200 mL sir.
simpleks)
-
Sir. Simpleks botol I
-
Sir. Simpleks botol II
-
Sir. Simpleks botol III
-
Sir. Simpleks botol IV
-
Sir. Simpleks botol V
Metil paraben botol III
Metil paraben botol IV
Propil paraben botol III
Sorbitol botol V
Aqua destilata add
|
0,2 g
130 g
25 mL
75 mL
25 mL
25 mL
25 mL
0,18 g
0,2 g
0,02 g
15 g
100 mL
|
B. Eliksir
No
|
Bahan
|
Berat
|
1.
2.
3.
4.
|
Parasetamol untuk 100 mL sediaan
Parasetamol untuk titrasi
Etanol
Aquadest add
|
2,4 g
0,24 g
4,2 mL
100 mL
|
V.
Prosedur
A. Sediaan Larutan
1)
Sirupus simpleks
Sukrosa sebanyak 130 g dilarutkan
dalam air panas sebanyak 200 mL
2)
Sediaan 1
0,2 g dekstrometorphan dilarutkan
dalam 12 mL air lalu diaduk hingga homogen. Kemudian ditambahkan 25 mL sirupus
simpleks, diaduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukan ke dalam botol
yang sudah ditara. Add 100 mL dengan aquadest.
3)
Sediaan 2
Dekstrometorphan ditimbang sebanyak
0,2 g, lalu dilarutkan dalam 12 mL air, diaduk hingga homogen. Ditambahkan 75
mL air dan diaduk hingga homogen. Campuran tersebut dimasukan ke dalam botol
yang sudah ditara. Add 100 mL dengan aquadest.
4)
Sediaan 3
0,2 g dekstrometorphan dilarutkan
dalam 12 mL air, lalu diaduk hingga homogen. Kemudian 0,18 g metil paraben dan
0,02 g propil paraben dilarutkan dalam 2 mL etanol secara terpisah satu sama
lain. Setelah larut, masing-masing larutan tersebut dimasukan ke dalam botol.
Lalu ditambahkan 25 mL sirupus simpleks. Setelah itu aquadest dimasukan add 100
mL.
5)
Sediaan 4
Dekstrometorphan ditimbang sebanyak
0,2 g dan dilarutkan dalam 12 mL air. 0,2 g metil paraben dilarutkan dalam 2 mL
etanol. 25 mL sirupus simpleks dicampurkan dan diaduk hingga homogen. Campuran
tersebut dimasukan ke dalam botol yang sudah ditara. Add 100 mL dengan
aquadest.
6)
Sediaan 5
0,2 g dekstrometorphan dilarutkan
dalam 12 mL air. Ditambahkan 25 mL sirupus simpleks dan diaduk hingga homogen.
15 g sorbitol dilarutkan dalam air. Campuran tersebut dimasukan ke dalam botol
yang sudah ditara. Add 100 mL dengan aquadest.
Semua sediaan dilakukan pengamatan selama 1 minggu. Amati :
-
Pertumbuhan mikroorganisme
-
Terjadinya kristal pada botol
-
Pengamatan organoleptik
B. Eliksir
1)
Penentuan konstanta dielektrik parasetamol (120 mg/5
mL) dengan cara titrasi :
-
Parasetamol dilarutkan dalam air dengan konsentrasi
(120 mg/5 mL) sebanyak 100 mL
-
Dilakukan titrasi dengan etanol sampai larutan menjadi
bening
-
KD parasetamol dihitung berdasarkan data KD pelarut
campur
KDcamp = (% Vair x KDair) + (%
Vetanol x KDetanol)
2)
Sediaan eliksir parasetamol (120 mg/5 mL) dibuat
sebanyak 100 mL, dengan cara :
a.
Parasetamol 2,4 g dilarutkan di dalam 4,2 mL etanol,
diaduk sampai larut. Ditambahkan air sebanyak 10 mL, aduk hingga homogen.
Campuran dimasukan ke dalam botol yang telah dikalibrasi. Aquadest add 100 mL.
b.
Air sebanyak 10 mL dan etanol 4,2 mL dicampurkan.
Kemudian masukan parasetamol sebanyak 2,4 g sedikir demi sedikit ke dalam
pelarut campur. Aduk hingga homogen. Campuran dimasukan ke dalam botol yang
telah dikalibrasi. Aquadest add 100 mL.
VI.
Hasil
Pengamatan
A. Sediaan Larutan
Pengamatan
|
Hari
ke-0
|
Hari
ke-1
|
Hari
ke-2
|
Hari
ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna : bening
Rasa : ++
Bau : +
|
Warna : jernih kekuningan
Rasa : +
Bau : ++
|
Warna : bening keruh
Rasa : +++
Bau : ++
|
Warna:bening kekuningan
Rasa : +++
Bau : ++
|
Warna : keruh
Rasa : +++
Bau : ++
|
Pertumbuhan
mikroba
|
-
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Ada
|
Kristal
pada mulut botol
|
-
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
·
Sediaan A (hasil rata-rata seluruh kelompok)
·
Sediaan B
(hasil rata-rata seluruh kelompok)
Pengamatan
|
Hari ke-0
|
Hari ke-1
|
Hari ke-2
|
Hari ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna : bening kekuningan
Rasa : +++
Bau : ++
|
Warna : bening kekuningan
Rasa : +++
Bau : ++
|
Warna:
kekuningan
Rasa : ++
Bau : +++
|
Warna : keruh kuning
Rasa : ++
Bau : +++
|
Warna :
keruh kuning
Rasa : ++
Bau : +++
|
Pertumbuhan
mikroba
|
-
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
Ada
|
Kristal
pada mulut botol
|
-
|
Ada
|
Ada
|
Ada
|
Ada
|
·
Sediaan C
(hasil rata-rata seluruh kelompok)
Pengamatan
|
Hari ke-0
|
Hari ke-1
|
Hari ke-2
|
Hari ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna : bening
Rasa : ++
Bau : ++
|
Warna : bening
Rasa : +
Bau : ++
|
Warna : bening keruh
Rasa : ++
Bau : ++
|
Warna : keruh
Rasa : ++
Bau : ++
|
Warna : keruh
Rasa : ++
Bau : +++
|
Pertumbuhan
mikroba
|
-
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
Kristal
pada mulut botol
|
-
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
·
Sediaan D (hasil rata-rata seluruh kelompok)
Pengamatan
|
Hari ke-0
|
Hari ke-1
|
Hari ke-2
|
Hari ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna : jernih kekuningan
Rasa : +
Bau : ++
|
Warna : jernih kekuningan
Rasa : +
Bau : ++
|
Warna : agak kuning
Rasa : ++
Bau : ++
|
Warna : agak kuning
Rasa : ++
Bau : ++
|
Warna : keruh kuning
Rasa : ++
Bau : +++
|
Pertumbuhan
mikroba
|
-
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
Kristal
pada mulut botol
|
-
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
·
Sediaan E (hasil rata-rata seluruh kelompok)
Pengamatan
|
Hari ke-0
|
Hari ke-1
|
Hari ke-2
|
Hari ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna : bening
Rasa : ++++
Bau : +
|
Warna : bening
Rasa : +++
Bau : ++
|
Warna : agak kuning
Rasa : +++
Bau : ++
|
Warna : agak kuning
Rasa :
+
Bau : +
|
Warna : kuning keruh
Rasa : +
Bau : +
|
Pertumbuhan
mikroba
|
-
|
Tidak ada
|
Ada
|
Ada
|
Ada
|
Kristal
pada mulut botol
|
-
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak
ada
|
Keterangan
:
1. Rasa : (+) →
manis
(++) → manis pahit
(+++) → pahit
(++++) → pahit sekali
2. Bau : bau
sirupus simpleks
B. Eliksir
·
Elixir
metoda A (hasil rata-rata seluruh kelompok)
Pengamatan
|
Hari
ke-0
|
Hari
ke-1
|
Hari
ke-2
|
Hari
ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau
: bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau
: bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau
: bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau
: bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau
: bau khas etanol
|
pH
|
6
|
6
|
6
|
6
|
6
|
Kejernihan
|
Jernih
|
Jernih
|
Jernih
|
Jernih
|
Jernih
|
Viskositas
|
|
|
|
|
|
Bobot
jenis
|
0,
98
|
0,
97
|
0,
97
|
0,
97
|
0,
97
|
Volume
terpindahkan
|
99
mL
|
92
mL
|
86
mL
|
82
mL
|
80
mL
|
·
Elixir metoda B (hasil rata-rata seluruh
kelompok)
Pengamatan
|
Hari
ke-0
|
Hari
ke-1
|
Hari
ke-2
|
Hari
ke-3
|
Hari
ke-4
|
Organoleptik
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau :
bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau :
bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau :
bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau :
bau khas etanol
|
Warna:
bening
Rasa
: pahit
Bau :
bau khas etanol
|
pH
|
6
|
6
|
6
|
6
|
6
|
Kejernihan
|
Kurang
jernih
|
Kurang
jernih
|
Kurang
jernih
|
Kurang
jernih
|
Kurang
jernih
|
Viskositas
|
|
|
|
|
|
Bobot
jenis
|
0,97
|
0,97
|
0,96
|
0,96
|
0,96
|
Volume
terpindahkan
|
98 mL
|
93 mL
|
89 mL
|
80 mL
|
79 mL
|
Keterangan :
Perhitungan KDparasetamol,
Viskositas dan Bj ada pada lampiran di halaman belakang.
VII.
Pembahasan
Dalam praktikum kali ini. Dilakukan pembuatan sediaan
larutan. Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut,
sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Sedangkan eliksir
adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat
mengandung juga zat tambahan seperti gula atau pemanis lain, zat warna, zat
pewangi dan zat pengawet, dan digunakan sebagai obat dalam. (Moh. Anief, 2008)
Zat aktif yang digunakan dalam
praktikum pembuatan larutan adalah dekstrometorphan. Dan bahan tambahan yang
digunakan adalah sirupus simpleks, sukrosa, metil paraben, propil paraben,
sorbitol, aquadest serta etanol.
Dalam pembuatan
sediaan larutan dibuat terlebih dahulu sirupus simplex (65% sukrosa). Sukrosa yang digunakan dalam
pembuatan larutan ini adalah 130 g yang dilarutkan dalam 200 ml air panas dan
digunakan untuk membuat 5 sediaan.
Dari hasil pengamatan sediaan 1 yang
sudah dirata-ratakan dengan semua kelompok, didapatkan hasil yang menyatakan
bahwa pada hari ke 1, 2, 3 dan 4 tidak terbentuk kristalisasi. Ini dapat
disebabkan karena sediaan 1 hanya berisi dektrometorphan dan sirupus simpleks
sebanyak 25 %. Dikarenakan kadar gula yang sedikit, maka tidak terjadi
kristalisasi pada sediaan ini. Pada hari ke 1, 2 dan 3 tidak terlihat adanya
pertumbuhan mikroba, sehingga pada pengamatan organoleptisnya tidak menunjukan
data yang terlalu berbeda dengan pengamatan organoleptis pada hari ke 0. Warna
yang terjadi dari hari ke 0, 1, 2, 3 (bening, jernih kekuningan, bening keruh,
bening kekuningan). Begitupun dengan rasa dan bau. Karena dalam sediaan ini
terdapat sirupus simpleks, maka rasa yang terasa adalah rasa manis, namun
lama-lama menjadi agak pahit. Dan bau yang terciumpun bau sirupus simpleks.
Namun pada hari ke 4, terdapat banyak mikroba pada sediaan yang dibuat, ini
dapat dilihat salah satunya dari warna sediaan yang berubah menjadi keruh. Hal
ini terjadi karena pada sediaan ini tidak ditambahkan zat pengawet, serta dalam
sediaan ini digunakan air sebagai pelarut, dimana air merupakan media tempat
tumbuhnya mikroba.
Pada hasil pengamatan sediaan 2 yang
berisi dekstrometorphan dan sirupus simpleks 75 %. Dari hari ke 1 hingga ke 4,
terdapat kristal pada mulut botol, ini dapat disebabkan karena jumlah sirupus
simpleks yang diapakai dalam sediaan 2 adalah ¾ dari total sediaan yang dibuat
dan pada sediaan ini, tidak menggunakan bahan tambahan anticaplocking, sehingga
terbentuk kristal pada mulut botol. Pada hari ke 3 dan ke 4 terjadi pertumbuhan
mikroba yang diikuti dengan perubahan organoleptis terutama perubahan warna
dari bening kekuningan menjadi keruh. Karena keruhnya suatu sediaan,
menunjukkan bahwa dalam sediaan tersebut terdapat mikroba. Begitupun dengan
baunya, karena dalam sediaan ini terdapat banyak sirupus simpleks, maka rasa
dan bau yang tercium adalah rasa dan bau sirupus simpleks, namun seiring dengan
tumbuhnya mikroba, maka bau yang tercium menjadi agak asam. Timbulnya mikroba
dapat terjadi karena dalam sediaan ini tidak menggunakan pengawet.
Dari hasil pengamatan sediaan 3 yang berisi
dekstrometorphan, sirupus simpleks 25%, metil paraben, dan propil paraben. Dari
ke 1 hingga ke 4 tidak terbentuk kristal pada leher botol yang dikarenakan oleh
penggunaan sirupus simpleks yang tidak terlalu banyak sehingga tidak terbentuk
kristalisasi gula. Selain itu, tutup botol yang digunakan adalah tutup botol
gabus, sehingga kristal pada leher botol tidak terlalu terlihat jelas. Pada
hari ke 4 terjadi pertumbuhan mikroba, seharusnya ini tidak terjadi karena
dalam sediaan ini terdapat metil paraben dan propil paraben yang bertindak
sebagai pengawet agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroorganisme. Namun
kenyataannya berbeda, ini dapat disebabkan pada saat pembukaan botol, udara
dari luar masuk ke dalam botol yang menyebabkan kandungan senyawa aktifnya (dekstromertophan)
dapat teroksidasi atau terurai membentuk senyawa lain yang mungkin bersifat
lebih toksik atau lebih beracun dari pada zat asalnya. Hal ini dapat
membahayakan kesehatan. Dari pengamatan organoleptis, terjadi perubahan warna
dari bening menjadi keruh karena adanya mikroba. Karena metil paraben dan
propil paraben kurang larut dalam air terutama propil paraben, sehingga untuk
melarutkan keduanya digunakan etanol. Dan bau yang terciumpun bau sirupus
simpleks dan bau etanol.
Dari hasil pengamatan sediaan 5 yang berisi
dekstrometorphan, sirupus simpleks 25% dan sorbitol, tidak terlihat adanya
kristal pada mulut botol. Hal ini dapat disebabkan karena dalam sediaan 5
terdapat sorbitol yang merupakan anticaplocking yang dapat mencegah
terbentuknya kristal gula pada leher botol. Karena dalam sediaan ini tidak
menggunakan pengawet, maka pada hari ke 2 sudah terlihat timbulnya mikroba,
selain itu pelarut yang digunakan adalah air yang merupakan media untuk
timbulnya mikroba. Begitupun dengan pengamatan organoleptis, dengan timbulnya
mikroba, warna sediaan yang terlihatpun lama-lama menjadi kuning keruh.Dalam percobaan ini, selain membuat sediaan larutan
dilakukan pula percobaan membuat eliksir dengan dua metode. Metode pertama,
parasetamol dilarutkan ke dalam etanol kemudian ditambahkan air dan dimasukan
ke dalam botol. Metode kedua, air dan etanol dicampurkan kemudian dimasukan
parasetamol sedikit demi sedikit lalu campuran tersebut diaduk hingga homogen
dan dimasukan ke dalam botol. Dari hasil pengamatan yang didapat, terlihat
bahwa metode pertama lebih memberikan hasil yang maksimal dengan parasetamol
yang terlarut dengan sempurna dibandingkan dengan metode kedua. Hal ini dapat
dilihat dari kejernihan kedua sediaan eliksir yang dibuat, dimana eliksir yang
dibuat dengan metode pertama memiliki terlihat lebih jernih dibandingkan dengan
eliksir yang dibuat dengan metode kedua. Hal ini dapat disebabkan karena
parasetamol larut dalam 70 bagian air,
dan dalam 7 bagian etanol (95%), yang berarti bahwa 1 g parasetamol larut dalam
70 ml air dan 1 g parasetamol larut dalam 7 ml etanol, sehingga dengan
menggunakan cara yang pertama yang dilarutkan dalam etanol terlebih dahulu,
parasetamol akan lebih cepat larut. Disini etanol berfungsi mempertinggi
kelarutan obat pada elixir dapat pula ditambahkan glicerol, sorbitol atau
propilenglikol. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula.
(Lahman,1994)Dilakukan
evaluasi sediaan eliksir selama seminggu yang mencakup evaluasi organoleptik
(warna, rasa, bau), pH, kejernihan, berat jenis, viskositas dan volume
terpindahkan. Dari hasil pengamatan organoleptik, tidak terjadi perubahan
warna, rasa ataupun bau dari hari pertama hingga hari keempat. Ini dapat
disimpulkan bahwa kedua sediaan eliksir yang dibuat cukup stabil. pH yang
didapat dari kedua sediaan adalah 6. Pengontrolan pH sangat penting karena
untuk meningkatkan kelarutan zat aktif. Profil laju pH menunjukkan
katalis asam spesifik dengan stabilitas maksimumnya pada jarak pH 5 sampai 7
(Connors,et al.,1986). Pada pembuatan sediaan elixir ini digunakan pelarut
campur (kosolven) untuk menaikkan kelarutan. Untuk memperkirakan kelarutan
suatu zat dalam pelarut campur harus dilihat harga konstanta dielektriknya
(KD). Dimana semakin tinggi harga konstanta dielektriknya, kepolarannya semakin
tinggi. Dalam percobaan ini di dapat harga KD pelarut campur yaitu 62,88. Suatu
pelarut campur yang ideal mempunyai harga konstanta dielektrik antara 25 sampai
80. Dalam percobaan ini dihasilkan pelarut campur yang memenuhi persyaratan
pelarut yang ideal.
VIII.
Usulan
Formula
1.
Formula Dekstrometorfan
Formula standar (Anonim, 1978).
-
Komposisi :
Sirup dekstrometorfan dibuat berdasarkan resep standar
sirup dekstrometorfan yang terdapat dalam Formularium nasional, yaitu :
R/
Dextromethorphani Hydrobromidum 15
mg
Sirupus simplex hingga 5 ml
-
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
-
Dosis :
1 sampai 4 kali sehari, 1 sampai 2 sendok makan
( Fornas edisi II hlm 100, tahun 1978Usulan formula yang baik dengan
memperhatikan campuran zat tambahan atau bahan-bahan tambahan lainnya yang
dapat berinteraksi baik atau tidak dengan zat aktif bahan tersebut, dan
memperhatikan kestabilan, kelarutan, kompatibilitas tiap-tiap bahan yang
dicampurkan, tujuannya supaya menghasilkan kualitas obat dengan efektifitas zat
aktif yang baik, kestabilan sediaan dan penerimaan ke pasien yg baik.
Dilihat
dari sediaan yang telah ditetapkan dalam Formularium Nasional, pembuatan sirup
dekstrometorfan disini ditambahkan bahan tambahan yaitu sirupus simpleks yang
mengandung sebagian besar sukrosa, biasanya 60-80%, tidak hanya disebabkan karena rasa manis dan
kekentalan yang diinginkan dari larutan tersebut, tapi juga karena sifat
stabilitasnya. Meskipun sirup mengandung 85 g sukrosa dalam air murni yang cukup
untuk membuat 100 ml sirup, sediaan yang dihasilkan ini tidak memerlukan penambahan
zat pengawet karena apabila sirup dibuat dan dipelihara sebagaimana mestinya,
maka sirup ini akan bersifat stabil dan resisten terhadap pertumbuhan
mikroorganisme. Suatu pemeriksaan terhadap sirup ini menyatakan sifatnya yang
pekat, dan relatif tidak mengandung air untuk pertumbuhan mikroba, sehingga
termasuk usulan formula yang tepat dalam pembuatan sediaan sirup
dekstrometorfan ini. Selain itu, untuk menutupi rasa pahit dari
dekstrometorphan, maka sebaiknya sirup diberi flavouring agent, seperti rasa
stroberi, jeruk, anggur dan semacamnya. Selain itu pula, untuk menarik
perhatian dari pasien agar mau meminum sirup tersebut, adalah dengan
menambahkan pewarna yang sesuia dengan flavouring agent yang diberikan.
Selain
dari ketetapan dalam formularium nasional diatas usulan formula juga dapat
ditambahkan dengan menggunakan anticaplocking seperti sorbitol yang berguna
untuk mencegah kristalisasi gula (sukrosa) pada daerah leher botol, biasanya
sorbitol ditambahkan sebanyak 15-30%. Juga diperlukan antioksidan seperti asam
sitrat untuk menghindari terjadinya reaksi oksidasi oleh oksigen karena zat
aktif dalam sediaan ini yaitu dekstrometorfan lebih mudah terurai dengan adanya
udara dari luar.
Jika
sirup di jenuhkan secara sempurna dengan sukrosa, pada penyimpanan dalam
keadaan dingin sebagian sukrosa dapat mengkristal dari larutan, dan dengan
berlaku sebagai inti, akan memulai semacam reaksi berantai yang akan
mengakibatkan pemisahan sejumlah sukrosa yang tidak seimbang dengan daya
larutnya pada temperature penyimpanan. Kemudian sirup menjadi sangat tidak
jenuh dan mungkin sesuai untuk pertumbuhan mikroba, sehingga dalam hal ini
diperlukan bahan pengawet. (Ansel, 2005)
2. Formula
Parasetamol
Formula standar
(Anonim, 1978).
-
Komposisi :
Sirup parasetamol
dibuat berdasarkan resep standar eliksir asetaminofen yang terdapat dalam
Formularium nasional, yaitu :
R/
Acetaminophenum 120
mg
Glycerolum 2,5
ml
Propylenglycolum 500
µl
Sorbitoli solution 70% 1,25
ml
Aethanolum 500
µl
Zat tambahan yang cocok secukupnya
Aqua destillata hingga 5
ml
-
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
-
Dosis :
Anak - 1 tahun,1 sendok teh; 1-5 tahun, 2 sendok teh.
Catatan : 1.Air dapat diganti dengan sirup simpleks
2.Sediaan berkekuatan lain : 150 mg
( Fornas edisi II hlm 3, tahun 1978)
Semua elixir mengandung bahan
pemberi rasa untuk menambah kelezatan dan hampir semua elixir mempunyai zat
pewarna untuk meningkatkan penampilannya, elixir yang mengandung alcohol lebih
dari 10-12%, biasanya bersifat sebagai pengawet sendiri dan tidak membutuhkan
penambahan zat antimikroba untuk pengawetannya.
Dalam formula yang digunakan pada
sediaan elixir terdapat gliserol, sorbitol dan propilen glikol digunakan zat
tambahan ini untuk memberi keseimbangan pada efek pelarut dari pembawa
hidroalkohol, membantu kelarutan zat terlarut, dan meningkatkan kestabilan
sediaan. Akan tetapi adanya bahan-bahan ini menambah kekentalan elixir dan
memperlambat kecepatan penyaring. (Ansel,2005)
Selain itu juga dapat digunakan
bahan tambahan lain yang cocok seperti pemanis untuk menutupi rasa pahit zat
aktif, pewarna untuk menutupi penampilan yang tidak menarik disesuaikan dengan
flavouring agent. Flavoring agent yang
ditambahkan tergantung dari usia pasiennya agar dapat diterima dengan baik oleh
pasien. Dapat juga dipakai asam sitrat sebagai antioksidan karena parasetamol
juga lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar dan bahan pengawet
seperti sirup dengan konsentrasi sukrosa lebih dari 65% atau asam benzoat.
Daftar
Pustaka
Anief, Moh. 2008. Ilmu Meracik Obat. Jakarta : Gadjah Mada
University Press
Anonim, 1979, Farmakope
Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope
Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 298
Connors, K.A.,
Amidon, G.L. and Stella, V.J., 1986, Chemical Stability of Pharmaceutical, John
Willey and Sons, New York, 3-26, 163-168.
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Edisi III. Jakarta : UI Press.